Di Era yang semakin
canggih dan serba mudah mendapatkan segala sumber informasi ini. Kecanggihan
teknologi menuntut manusia modern agar tidak ketinggalan zaman. Tak ayal bila
pada era ini manusia modern tidak bisa lepas dari kebutuhan internet. Dimanapun
mereka berada, internet menjadi seperti makanan, bahkan oksigen bagi mereka. Pada perkembangannya akun media sosial/jejaring sosial
semakin marak ditemui. Semakin bersaing dan mengikuti perkembangan zaman
menyuguhkan konten-konten menarik yang dapat meningkatkan pamor perusahaan.
Akun tersebut meliputi akun instagram, youtube, facebook, dsb. Semakin maraknya
akun-akun yang menyuguhkan konten -konten menarik, membuat masyarakat penikmat
internet menghabiskan waktunya, duduk berlama-lama hingga berjam-jam hanya
untuk sekadar menikmati suguhan tersebut. Istilah citizen (netizen) pun
muncul melabeli masyarakat yang berhubungan dengan internet lebih dari tiga jam
dalam sehari. Populasi netizen di Indonesia pun semakin meluas, tidak hanya
generasi millennials atau generasi lebih muda sebagai anggotanya, tetapi
generasi sebelumnya. Tentu, antar generasi memiliki profil dan karakter yang
berbeda. Apa saja?
Menurut pemantauan
lembaga riset Nielsen, sampai tahun 2017 netizen di Indonesia
dipenuhi oleh empat generasi berbeda, yakni Generasi Baby Boomers (kelahiran
(1946-1964), Generasi X (1965-1980), Generasi Y (1980- akhir 90an), dan yang
paling muda Generasi Z (awal 2000an- sampai sekarang).
Dari kondisi ini, netizen Indonesia
semakin intim dengan dunia internet di kehidupan keseharian mereka. Apa yang
mereka konsumsi pun berbeda. Jika rata-rata Gen X banyak memanfaatkan internet
untuk mengakses berita dan mencari ulasan seputar produk yang ingin mereka
beli, konsumsi Gen Y lebih variatif. Aktivitas seperti mencari pekerjaan,
mencari profil perusahaan mengisi kehidupan dunia maya Gen Y.
Sementara Gen Z banyak
menghabiskan waktu mereka di depan gawai dengan mengakses forum berita serta
media sosial.
Namun, sayangnya baru-baru ini lebih sering ditemui fungsi negatif, dalam mengonsumsi media sosial. Konten media sosial yang paling banyak pengonsumsinya adalah instagram. Keempat generasi X hingga Z, saling berlomba-lomba menunjukkan eksistensi mereka masing-masing. Salah satu karakter netizen yang senang selalu memperbarui aktivitas mereka di media sosial dengan mengunduh foto-foto. Bahkan, parahnya netizen saling menjatuhkan eksistensi netizen lain dengan memberikan komentar-komentar negatif. Hingga rela membuat fake account/ akun palsu sekadar untuk menjatuhkan, menghujat eksistensi netizen lain.
Hingga banyak ditemui akun haters yang isinya penuh dengan post negatif. Penuh dengan tebaran-tebaran kebencian berupa komentar negatif, bullying, dan provokasi, demi memuaskan hasrat mereka yang gila akan popularitas diri. Bagi netizen semacam ini menghakimi, mengorek kesalahan, menebarkan aib netizen lain adalah sebuah prestasi. Seni berkomentar negatif yang tidak didahului dengan introspeksi diri. Mirisnya netizen semacam ini semakin marak ditemui. Sasarannya tidak hanya untuk kalangan publik (artis), namun, siapa saja pengonsumsi media sosial ini dapat dijadikan target.
Bisa dibilang sebuah wadah untuk mereka yang gila pencitraan. Banyak menebar drama-drama dunia saling berkomentar mengurusi kehidupan netizen lain itulah azas beretika yang diterapkan mereka. Etika tersebut seolah-olah racun yang mengendap di hati kotor mereka dan mencandu bak alkohol.
Namun, tidak sedikit pula ditemui generasi-generasi positif yang memanfaatkan kecanggihan teknologi sebagai sebuah wadah mengembangkan kreativitas diri dan berkarya. Kembali lagi ke siapa yang memanfaatkan kecanggihan teknologi ini. Karena pasti ada sisi positif dan negatif.
Jadi bagaimana? cukup tercambuk kah dengan artikel ini? kamu generasi positif atau negatif? semoga menjadi evaluasi diri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar